Sejak diterpa badai krisis ekonomi secara global, banyak para petani sawit yang terkena imbasnya. salah satu contoh adalah para petani plasma di daerah tebing tinggi, yang merupakan ibukota dari kabupaten empat lawang.
Para petani sangat mengeluh tentang harga sawit yang terjun bebas ke level yang sangat rendah untuk saat ini dibandingkan beberapa tahun terakhir, jangankan untuk menikmati hasil panen yang melimpah, untuk membeli pupuk dan memanen pun lebih berat diongkos daripada untungnya.
banyak pabrik yang ada di sekitar daerah plasma tidak mau menerima hasil buah sawit dari petani, dengan alasan stok minyak cpo yang di penampungan sudah melebihi kapasitas. dengan harga buah sawit yang berada dikisaran Rp. 300 s/d Rp. 400 membuat para petani tidak dapat panen karena ongkos produksi lebih besar daripada keuntungan yang diperoleh. tapi, sepertinya pabrik tidak mau ambil pusing tentang hal ini karena tanpa buah dari plasma pun mereka tidak kehabisan stok buah karena mempunyai kebun sendiri.
para pegawai dan buruh perkebunan pun terkena dampat dari hal ini, dengan alasan efisiensi maka banyak pegawai yang di phk secara sepihak oleh pihak perusahan.
menurut pendapat saya seharusnya pemerintah lebih tanggap akan hal ini, karena jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka roda perekonomian didaerah tersebut akan terganggu dan juga dapat menimbulan masalah yang baru, misalnya tindak kejahatan yang meningkat karena banyak orang yang tidak punya pekerjaan dan penghasilan yang tetap lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar
Posting Komentar